Suara Hati BMI Ini Menunjukkan Bahwa Masih Ada Pemerasan di Bandara… Sungguh Terlalu!

Suara Hati BMI Ini Menunjukkan Bahwa Masih Ada Pemalakan di Bandara… Sungguh Terlalu! 1

Dua hari yang lalu tepatnya tanggal 18 Desember 2015 seorang kawan berinisial RPL menceritakan kisah seorang temannya yang diperas oleh oknum check in counter di Bandara Sukarno-Hatta.

Entah dimana hati oknum tersebut kok tega-teganya ngerjai orang hingga uang yang tersisa di dompetnya hanya Rp. 200.000 saja. Padahal jelas-jelas teman RPL tersebut ingin mencari nafkah untuk keluarganya.

Suara Hati BMI Ini Menunjukkan Bahwa Masih Ada Pemalakan di Bandara… Sungguh Terlalu!

Untuk lebih jelasnya mari kita simak kronologi mengenai peristiwa tersebut.

PEMERASAN DI BANDARA

(Silahkan di share, supaya Roni dengan No. HP 081310093846 bisa tertangkap)

Kurang lebih dua minggu yang lalu ada seorang calon BMI, sebut saja namanya Siti melakukan penerbangan dari Jakarta ke Singapore untuk mengubah nasibnya dengan bekerja di negeri ini. Entah apa alasannya, di Bandara Sukarno-Hatta dia DIPALAK oleh petugas maskapai penerbangan check in tiket. Dia harus membayar 1 juta rupiah supaya bisa terbang ke Singapore. Diapun membayarnya.

Nasib kurang baik dialami oleh Siti. Sampai di Singapura, dia tidak dibolehkan keluar dari Bandara dengan alasan calon majikannya belum melunasi kewajibannya kepada MOM. Akhirnya Siti kembali ke Jakarta.

Kemarin, Kamis 17 Desember 2015.

Siti kembali mencoba nasibnya untuk terbang lagi. Namun karena sesuatu hal, dia terlambat sampai ke Bandara. Tiket yang dibelinya pun hangus. Dua kali beli tiket yang sia-sia. Siti memutuskan untuk bermalam di Mushola yang ada di Bandara Sukarno-Hatta. Dengan tujuan akan melakukan penerbangan esok harinya yaitu hari ini.

Siang tadi, Jumat 18 Desember 2015

Siti telah membeli tiket untuk yang ke tiga kalinya. Kali ini harga tiketnya sangat mahal. Tiket sekali jalan Jakarta-Singapore dibeli dengan harga Rp.1.800.000. Biasaya harga tiket berkisar antara Rp.800.000 sampai 1 juta Rupiah. Siti membeli tiket Lion Air dengan nomer Penerbangan JT160 terbang jam 3 sore.

Waktu yang di tunggu pun tiba. Siti check in tiket. Seperti penerbangan pertama, Siti DIPALAK. Petugas bandara meminta uang Rp 500.000.

Namun Siti benar-benar dalam keadaan krisis. Uang yang tersisa di dompetnya hanyalah Rp.200.000 saja. Siti pun di tolak untuk check in. Saudara Siti yang bekerja di Singapore menghubungiku. Sebut saja namanya Ani.

Ani meneleponku dan menghubungkan aku dengan Siti yang sedang ada di Bandara melalui “conference call”. Aku pun mencoba membantu Siti dengan berbicara langsung dengan petugas check in. Maka pembicaraan antara saya dan petugas dari Lion Air yang katanya bernama Roni terjadi. Di saksikan oleh Siti dan juga Ani yang diam-diam mendengarkan.

Oknum: “Assalamualaikum… “

RPL: “Waalaikumussalam. Selamat siang Pak. Begini… bolehkan saya tahu apa alasannya kok Siti tidak boleh terbang jika tidak membayar Rp.500.000?”

Oknum: “Ohh.. begini , Dia ini terbang hanya membeli 1 tiket saja. Tidak membeli tiket pulang.”

RPL: “Iya kan tidak masalah Pak. Sebab dia ke Singapore untuk kerja. Dia membawa permit.” Jawabku.

Oknum: “Bukan begitu. Dia ini kan baru mau mulai kerja. Bukan pulang cuti. Jadi aturannya dia harus memiliki LG.”

RPL: “LG ? LG itu apa Pak? KTKLN?” tanyaku.

Baru pertama kali ini aku dengar tentang LG dan aku memang tidak tahu kepanjangan apakah itu LG.

Oknum: “LG itu surat rekomendasi dari PJTKI. Seperti surat yang menyatakan pemberian ijin dari PJTKI untuk TKI yang bekerja ke LN. Ibu mudeng atau tidak?”

Mendengar jawaban yang ketus, hatiku pun terbakar rasa marah. Pikiranku langsung tertuju bahwa memang pemerintah kita sekarang sedang berusaha menghilangkan Direct Hire dan mewajibkan setiap TKI bekerja melalui PT di Indonesia dan juga Agent di Singapore dengan alasan keselamatan mereka lebih terjamin jika mengalami hal-hal yang tidak di inginkan.

RPL: “Iya.. iya saya tahu tentang hal itu. Dan perlu Bapak ketahui bahwa saya ini ketua BMI di Singapura. Jadi saya tahu hal-hal seperti itu. Saya pernah mengadakan meeting dengan Bapak Hanif Dhakiri menteri Tenaga Kerja. Dan Bapak Hanif sendiri mengatakan bahwa jika terjadi pemerasan di bandara, mohon petugasnya untuk di foto dan nantinya akan kita laporkan. Saya juga tahu bahwa UU no.6 tahun 2011 menyatakan bahwa Petugas Imigrasi maupun petugas bandara tidak berhak melakukan pencekalan jika syarat untuk terbang sudah dipenuhi. Saya juga tahu bahwa di bandara tidak perlu membayar apapun kepada pegawainya kecuali airport tax . Jadi… maaf jika saya akan meminta kepada si Embak untuk mem-foto bapak.”

Dari nada bicaranya, petugas itu sudah mulai ketakutan mendengar penjelasanku yang panjang lebar dan gertakanku untuk melaporkan dia. Dengan cepat dia memutuskan kata-kataku.

Oknum: “Ok, gini saja. Ini kalau saya ijinkan untuk check in dan nanti ada apa-apa atau dikembalikan lagi, saya tidak mau tanggung jawab.”

RPL: “Iya tidak apa-apa, saya yang akan bertanggung jawab.” Jawabku.

Akhirnya Siti di izinkan untuk menuju ke Imigrasi. Aku berpesan kepadanya untuk menghubungiku jika masih ada masalah lagi.

Lega rasanya ketika mendapat kabar bahwa Siti lolos dari imigrasi tanpa sembarang masalah. Jam baru menunjukan pukul 13:00 WIB. Masih ada 2 jam untuk terbang. Aku pun kirim inbox ke Ani untuk tetap memberiku informasi tentang Siti dan memberitahukan padanya bahwa di pintu masuk ruang tunggu pesawat juga merupakan tempat yang rawan akan pemerasan.

Jam 15:00 WIB sudah berlalu, Tidak ada berita dari Siti maupun Ani. Aku bernafas lega. Aku pikir Siti sudah berada di dalam pesawat terbang. Maka aku tulislah cerita yang sebelum cerita ini, hanya sampai di sini saja.

Sedang asyik membalasi komen, tiba-tiba Ani inbox dan memberitahuku bahwa Siti gagal terbang. Aku pun segera menghubungi Siti yang memang sedang kebingungan di dalam bandara. Tak tahu lagi harus kemana dan bagaimana. Bahkan untuk menangis pun katanya dia sudah tidak mampu.

Siti bercerita, Dari Imigrasi dia menuju Gate D4 sebagaimana tertulis di kertas Bording pass yang dia pegang. Siti berhasil masuk ke dalam ruang tunggu pesawat. Bahkan boarding pass pun sudah di sobek separo. Siti sudah duduk diantara penumpang Lion Air JT.160 di ruang tunggu itu. Bahkan dia sempat ngobrol dengan seorang cowok dan mengkonfirmasikan dengannya bahwa sang cowok itu juga akan naik pesawat Lion air JT.160. Cowok itu pun mengiyakan.

Ketika waktu hampir menunjukan pukul 15:00 WIB, Seorang petugas memanggilnya. Memberitahukan kepadanya bahwa dia telah salah memasuki Gate D4. Seharusnya dia berada di Gate D5. Entah apa yang ada di benaknya, dia pun mengikut saja. Keluar dari ruang tunggu dan menuju Gate D5. Sampai di Gate D5 , dia diberitahu petugasnya bahwa dia harusnya berada di Gate D4.

Duh Gusti… Sakit sekali rasa hatiku. Permainan apakah yang sedang dilakukan oleh petugas-petugas bandara itu kepada Siti? Apakah mereka tidak punya hati?

Siti kembali berlari menuju Gate D4. Sesampainya di pintu jam telah menunjukan pukul 15.30 WIB. Siti tidak boleh masuk. Katanya dia sudah tertinggal pesawat. Dia di suruh membeli tiket lagi.

Tak sengaja dia melihat Roni ada di situ. Bahkan Roni sempat berkata kepada Siti: “Bukan salah aku ya Mbak… Aku sudah izinkan kamu check in. Tapi kamu malah muter-muter sampai ketinggalan pesawat. Jadi kamu harus beli tiket lagi kalau mau terbang.”

Yang lebih menyakitkan lagi, petugas itu menyuruh Siti menjual apa saja yang dia miliki supaya bisa membeli tiket lagi.

Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tanyakan kepada Siti, apakah cerita yang dia katakana itu benar atau memang dia sendiri yang muter-muter mencari ruangan hingga ketinggalan pesawat? Sebab jika memang dia yang ketinggalan pesawat, itu berarti memang kesalahan dia sendiri. Tapi Siti menegaskan bahwa apa yang dia ceritakan adalah benar.

Roni dan petugas yang ada di ruang tunggu pesawat itu sudah bersekongkol untuk menggagalkan penerbangannya. Mungkin Roni sakit hati karena tidak berhasil mendapatkan Rp.500.000 yang dia inginkan.

Yang lebih mengherankan, kok sempat-sempatnya Roni minta no HP Siti dan menghubungi Siti entah membicarakan apa, aku tidak sempat menanyakannya. Akhirnya tiket yang ke tiga juga hangus sia-sia. Aku telepon dan SMS Siti pun sudah tidak di respond lagi. Pasti sedang dalam keadaan yang sangat sedih.

Sabar ya Siti, setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Baik kita sadari maupun tidak kita sadari. Semoga menjadi pelajaran buat yang lain.

Sayang sekali tidak bisa menyertakan Foto Roni karena Siti tidak melakukan seperti apa yang aku suruhkan. Yaitu memotret Roni sebagai bukti. Satu-satunya bukti yang ada adalah no HP Roni yaitu 081310093846

Berharap melalui No HP itu, ada pihak Lion Air atau pejabat yang berwewenang yang membaca tulisan ini yang bisa menemukan si Pemeras Roni serta bisa membawanya ke meja pengadilan supaya tidak terjadi korban-korban lainnya.

KTKLN sudah tidak bisa digunakan untuk memeras, kini berganti sasaran menjadi LG. Sunggu malang nasibmu TKI…. Oh… TKI

Keesokan harinya tanggal 19 Desember 2015 RPL melanjutkan kisah Siti dan alhamdulillah Siti berhasil terbang dengan bantuan TNI dan Polri yang mau membantu nasib orang yang sedang kesusahan.

Berikut kisahnya…

Alhamdulillah berita gembira. BMI yang dipersulit oleh maskapai Lion Air di bandara Sukarno – Hatta kemarin yang saya beri initial Siti, akhirnya lolos terbang sekitar jam 6 sore lebih waktu Indonesia.

Dia keluar dari Bandara dan ketemu ABRI. Dia mengadu dan minta bantuan Pak ABRI tersebut. Pak ABRI menyerahkan Siti ke Polisi. Akhirnya dia di bawa ke konter Lion Air. Menjalani argumentasi tapi akhirnya di diterbangkan dengan ancaman jika tidak diterbangkan akan di proses secara hukum.

Alhamdulillah masih ada pegawai yg baik hatinya membantu orang kecil. Sayang sekali Roni sudah tidak ada di situ sewaktu Siti melapor.

Hati-hati ya dengan modus pemerasan TKI di Bandara.

Rombongan Konvoi Motor Ini Tidak Memberi Kesempatan  Ambulans untuk Lewat... Sungguh Terlalu!

Top Posts:

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kriminal dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

20 Balasan ke Suara Hati BMI Ini Menunjukkan Bahwa Masih Ada Pemerasan di Bandara… Sungguh Terlalu!

  1. Rideralam berkata:

    Jancuk tenan wong koyok ngunu iku… semoga rejeki si Roni dan kroco2 krowaknya itu mengalir semua ke Siti

    Suka

  2. lamik gemini berkata:

    enak bener petugas bandara cari duit..

    Suka

  3. imotorium berkata:

    ngerjain orang lagi ya.. parah itu mas…

    Suka

  4. Ping balik: Pesawat T50i Jatuh di Yogya Airshow di Lanud Adisutjipto | Sing Indo

  5. Ping balik: Congrats!! Maria Harfanti Juara 3 Miss World 2015 | Sing Indo

  6. Ping balik: Pesta Seks di Hotel Mewah di Jakarta Tanggal 24 Desember 2015 Hebohkan Dunia Maya | Sing Indo

  7. Ping balik: Pasangan Ini Pamer Kemesraan di Depan Umum… Wali Kota Pun Angkat Bicara | Sing Indo

  8. Ping balik: Remaja Putri Dan Mahasiswi, Waspadalah! Begini Modus Muncikari Menjebak Kalian | Sing Indo

  9. Ping balik: Inilah Inisial Pilot & Pramugari Lion Air Yang Ditangkap BNN 19 Desember 2015 | Sing Indo

  10. Ping balik: Heboh! Ponsel Zuk Z1 Diduga Memalsukan Sertifikat Postel Kominfo | Sing Indo

  11. Ping balik: Pantas Saja Steve Harvey Salah Sebut Nama Pemenang Miss Universe 2015… Desain Kartunya Saja Seperti Ini | Sing Indo

  12. Ping balik: Wahai Pemilik Mobil B 2465 BFA… Kalau Parkir Jangan Kayak Jagoan Dong! | Sing Indo

  13. Anakbangsa berkata:

    Lion Air, tow? Udah busuk nih maskapai ya? Si jonan pun masih ga berdaya juga ngadepin maskapai busuk seperti ini, ya?

    Suka

  14. Ping balik: Oknum PNS Di Medan Tertangkap Kamera Main Game Pada Saat Rapat | Sing Indo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s