Iklan
jump to navigation

Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan Februari 17, 2016

Posted by singindo in Politik.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan

Selamat sore Mas bro dan Mbak sis…

Beberapa waktu yang lalu kawan Singindo berinisial BS memposting foto diatas. Menurut pengakuannya, Uang tersebut dia dapatkan dari penjual saat melakukan transaksi pembelian. Bahasa gampangnya uang kembalian.

Yang menarik, di uang tersebut ada stempel berwarna biru dengan tulisan “Satria Piningit”. Penasaran akan hal tersebut Singindo mencoba mencari tahu lewat Google dan menemukan artikel yang pas untuk memenuhi rasa penasaran tersebut.

Menurut informasi yang dilansir Syahrul Ansyari dan Dody Handoko di nasional.news.viva.co.id, Tanda-tanda kemunculan Satrio Piningit tidak ada yang mengetahuinya secara pasti. Menurut ramalan Jayabaya, yang tertulis di buku Jangka Jayabaya, Satrio Piningit memiliki ciri-ciri tertentu.

Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan

Ciri itu disebutkan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa, dan bersenjata trisula wedha (bait 159).  Satrio Piningit berwujud seperti manusia biasa, tetapi sejatinya ia adalah dewa. Untuk mengetahui sejatinya seseorang tidaklah mudah, kecuali sesamanya, atau lebih tinggi derajatnya.

“Berparas seperti Bathara Kresna, berwatak seperti Baladewa. Paras Satrio seperti Bathara Kresna (tampan berwibawa) dan berwatak tegas seperti Baladewa,” ujar budayawan Jawa, Aziz Hidayatullah, Jumat 12 Juni 2015.

Bersenjata trisula wedha. Untuk kalimat yang satu ini dimaknai secara tersirat, karena Satrio yang dipingit tidak membawa trisula ke mana-mana.

Dalam pemaknaan trisula wedha, secara garis besar bisa dimaknai tiga menjadi satu, seperti ilmu, amal dan iman, bumi, langit, dan isinya: kiri, kanan, tengah: bener, jejeg, dan jujur, atau apa pun yang secara filsafat mengandung makna tiga menjadi satu. Hal ini, sesuai dengan derajat dewa, sehingga berkelakuan mulia.

Sakti mandraguna tanpa aji-aji (bait 162). Analisis Satrio Piningit sakti mandraguna tanpa azimat apapun, apalagi batu atau  keris, sesuai dengan derajatnya sebagai dewa.

Pandai meramal seperti dewa, dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut, dan canggah seseorang, seolah-olah ia lahir di waktu yang sama. Tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati, bijak, cermat, sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengetahui leluhur seseorang, memahami putaran roda zaman Jawa. Mengerti garis hidup setiap umat, dan tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).

Seperti disebutkan sebelumnya, ia adalah dewa, sehingga sudah pasti bisa meramal, atau membaca. Karena mampu membaca isi hati, atau pikiran seseorang, Satrio Piningit tidak akan tertipu. Tetapi, mungkin dalam hal menjaga piningitnya, ia pura-pura tertipu.

Bijak, cermat, dan sakti. Sesuai dengan derajatnya yang dewa tersebut, kalimat ini juga bisa sebagai acuan untuk mengetahui wujud lahiriahnya Satrio Piningit dari sisi perbintangan.

Sang Satrio memahami filsafat sebab akibat. Secara sederhana, hukum sebab akibat itu digambarkan sebagai, “jika kita berbuat baik, akan mendapatkan kebaikan, begitu pula sebaliknya”.

“Sesuai dengan namanya “piningit”, ia tidak akan sibuk memperkenalkan diri sebagai Satrio Piningit,” kata Aziz.

Sebab itu, carilah satria itu yatim piatu, tak bersanak saudara, sudah lulus weda Jawa, hanya berpedoman trisula, ujung trisulanya sangat tajam membawa maut, atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan (bait 168).

Secara lahiriah, pastilah Satrio memiliki sebab, sehingga ada akibat (memiliki saudara dan orangtua). Berarti, kalimat ini diartikan secara tersirat sesuai dengan derajatnya para dewa, dan mengarahkan pada kelakuannya yang tidak membeda-bedakan mana kakak, adik, atau bukan. Dengan kata lain, Satrio Piningit tidak akan KKN dan selalu berbuat adil.

Ujung trisulanya tajam membawa maut, atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan. Trisula ini merupakan kelakuan, atau perbuatan dari Satrio itu sendiri.

Senang menggoda dan minta secara nista (bait 169). Senang menggoda bisa diartikan genit, atau suka bercanda. Sedangkan kalimat minta secara nista adalah bagian dari candaan ataupun godaannya.

Diterangkan jelas bayang-bayang menjadi terang benderang (bait 170). Dengan kemampuannya, segala sesuatu yang bayang-bayang, atau tidak jelas, atau tersamar, atau tersembunyi akan menjadi terang.

Sesuai dengan zaman sekarang ini, banyak sejarah dihapus, atau diselewengkan, atau dibelokkan, sehingga kita kehilangan jati diri. Sepertinya, hanya Satrio Piningit yang mampu meluruskan sejarah kita.

Hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya (bait 171). Berarti, dengan mudah Satrio Piningit dapat memberi petunjuk arti dan makna dari ramalan Jayabaya tersebut.

Bagaimana? Sudah cukup jelas penjelasan diatas mengenai Satrio Piningit? Lalu apa hubungannya dengan uang lima ribuan seperti diatas ya?

Top Posts:

Iklan

Komentar»

1. Indomoto - Februari 17, 2016

xi xi xi . . .

Suka

ninja150ss - Februari 18, 2016

Wow…

Suka

2. sebarkan.org - Februari 17, 2016

Satrio piningit ini ngejelasin ttg pemerintahan Indonesia..

Suka

3. Tak Banyak Yang Tahu… Sophia Latjuba Pamer Buku Nikah Dengan Lelaki Berawalan Huruf “A” | singindo - Februari 17, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

4. Setengah Tua Aja Cantiknya Seperti Ini, Bagaimana Mudanya? | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

5. Bagaimana Hukum Agama Dalam Memandang “Blowjobs”? | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

6. Pasang Foto Bersama Penulis Buku “Jakarta Undercover”, Nikita Mirzani Akan Menikah Dengan Moamar Emka? | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

7. Sebut Alexis Tak Ada Prostitusi, Kepala Dinas Pariwisata DKI Disemprot Ahok | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

8. REZEKI | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

9. Bom Mobil Serang Konvoi Kendaraan Militer Turki, 28 Orang Tewas. Adakah WNI yang Menjadi Korban? | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

10. Foto Anggota DPRD Nunukan Nyaris Adu Jotos | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

11. Ibu Muda Di Klaten Adukan Perwira Polisi Karena Dugaan Pemukulan, Kasat Lantas: “Hendak Menabrak Sehingga Petugas Refleks” | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka

12. Fenomena Masa Kini, Arab Jadi Barat, Indonesia Jadi Arab | singindo - Februari 18, 2016

[…] Arti Tulisan Satrio Piningit di Uang Lima Ribuan […]

Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: